SILATURAHIM

“Mereka Pasti Kalah Ketika Berhadapan dengan Dalil Alquran”

Dr Zakir Abdul Karim Naik
(Kristolog dan Dai Internasional)

Kriminalisasi terhadap ulama tidak hanya terjadi di Indonesia. Di India, kriminalisasi juga dilakukan terhadap cendekiawan Muslim, Doktor Zakir Abdul Karim Naik alias Zakir Naik.

Rangkaian fitnah dituduhkan kepada Zakir Naik oleh rezim India. Mulai dari tuduhan menyampaikan pidato yang provokatif, menghasut kekerasan, menyebarkan kebencian, hingga mendanai teroris dan pencucian uang (money laundry).

Atas hal itu, Badan Investigasi Nasional (NIA) India telah menyiapkan sebuah permintaan resmi untuk menyiapkan sebuah Red Corner Notice (RCN) kepada ahli perbandingan agama yang pada 1-10 April lalu melakukan safari dakwah di lima kota di Indonesia itu. NIA juga dikabarkan memberikan pemberitahuan itu pada CBI, kantor Interpol di India, pada 18 Mei lalu.

Zakir Naik merupakan sosok fenomenal. Ceramah-ceramahnya tentang akidah dan ketuhanan pada satu dasawarsa terakhir sangat memukau, dan bisa disaksikan oleh umat manusia di seluruh dunia. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang awalnya atheis atau beragama lain, akhirnya masuk Islam setelah mendengaran ceramah-ceramahnya. Hal itu tak lain karena ia selalu menyampaikan kitab suci Alquran.

Menjelang pelaksanaan “Zakir Naik Visit Indonesia 2017” lalu, banyak pihak yang tidak suka dengan kehadirannnya. Bahkan banyak yang salah sangka dengan metode dakwahnya. Disangka Zakir Naik gemar berdebat, padahal metode dakwahnya adalah ceramah dan tanya jawab saja. “Hanya beliau itu tanya jawabnya lebih banyak dari ceramahnya,” ungkap representasi Dr Zakir Naik di Indonesia, Ustaz Al Bukhari Abdul Wahid, kepada Suara Islam.

Untuk mendapatkan jawaban atas fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh para musuhnya, sejumlah jurnalis media Islam yang tergabung dalam Forum Jurnalis Muslim (Forjim) berhasil mewawancarai Zakir Naik dalam sebuah kesempatan di sebuah hotel di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat 31 Maret 2017. Kecuali tanya jawab dalam konferensi pers, wawancara secara eksklusif dengan Zakir Naik merupakan kesempatan yang sangat langka. Berikut petikan selengkapnya:

Bagaimana pandangan anda tentang Muslim Indonesia?

Ini adalah kunjungan kedua saya ke Indonesia. Sayang senang bisa berada disini, terlebih Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia.

Bagaimana pandangan anda soal Islamophobia yang terjadi di seluruh dunia. Bukan hanya di Barat, tapi juga di negeri muslim sendiri. Metode dakwah seperti apa untuk menghadapi kelompok Islamophobia?

Sekarang ini senjata terhebat di dunia adalah media. Melalui media, putih bisa jadi hitam atau sebaliknya. Saat ini, banyak propaganda negatif terhadap Islam di sejumlah media, baik online, televisi, koran, maupun majalah. Harus ada langkah untuk memperbaiki image yang salah tentang Islam.

Karena itu, kita harus gunakan cara dan media yang sama untuk meluruskan persepsi yang salah tentang Islam.

Sayangnya, kita sebagai muslim masih terbelakang dalam penguasaan di bidang media. Sudah saatnya, kita gunakan media yang terbaik dan paling modern untuk menyikapi kesalahanpahaman pihak tertentu tentang Islam.

Saat ini, Indonesia selalu menjadi sasaran Kristenisasi, bagaimana pandangan anda mengenai hal ini?

Allah menjelaskan dalam Alquran Surat Al Maidah ayat 82, bahwa golongan yan paling dekat dengan Islam adalah Kristen. Begitu juga dijelaskan dalam QS. Al Imran ayat 64, Allah menjelaskan, “Wahai ahli kitab, kita bicara satu persamaan tentang kalimat yg satu, yakni tidak menyembah tuhan lain selain Allah.

Karena itu, kita sebagai muslim harus melakukan dakwah dan pendekatan dengan mencari persamaan antara Islam dengan Kristen, Quran dengan Bible, bukan perbedaannya.

Anda dicap sebagai tokoh Islam radikal, bahkan kepala anda dihargai dengan lima juta rupee atau satu miliar? Tanggapan anda?

Sebagaimana kita ketahui, Pemerintah India sekarang ini sangat anti terhadap Islam dan merupakan ekstremis Hindu. Selama ini saya sudah 25 tahun berdakwah, menyampaikan kebenaran Islam di seluruh India dengan cara yang damai. Dan itu tidak masalah. Tapi, pemerintah India yang sekarang tidak senang apa yang saya lakukan. Apalagi, sudah puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang Hindu India yang masuk Islam.

Menyebut saya radikal, ekstremis, teroris, adalah alasan yang diada-adakan pemerintah India saja.

Memang benar, ada seorang pendeta perempuan Hindu yang memberikan sayembara berhadiah untuk bisa membunuh saya. Bagi yang bisa membunuh saya, dihargai 5 juta rupee atau senilai satu miliar rupiah.

Cara kekerasan itu dilakukan, karena mereka tak pernah menang dalam berdebat. Mereka pasti kalah ketika berhadapan dengan dalil Alquran, sehingga yang bisa mereka lakukan adalah dengan cara kekerasan.

Sejak anda datang ke Indonesia, ada pihak-pihak yang tidak suka dengan kehadiran anda disini. Bahkan anda yang bilang, anda seharusnya tidak lolos masuk ke Indonesia dengan tuduhan anda sebagai tokoh radikal. Tanggapan anda?

Allah menjelaskan dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 6. Jika menerima informasi, sebaiknya dilakukan tabayun terlebih dahulu. Sebab, kalau tidak, akan merugikan seseorang.

Seperti kita ketahui, musuh-musuh Islam selalu menggunakan cara untuk mencegah saya datang ke suatu negara dengan tuduhan membawa paham radikal dan terorisme.

Kalau saya dibiarkan masuk ke Indonesia, ada pihak yang tidak suka, jika puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan orang akan tertarik pada Islam. Pesan damai yang saya sampaikan dihadapi dengan membangun citra negatif tentang saya.

Hingga saat ini, saya sudah memberi ceramah lebih dari 2000 kali. Saya justru akan menantang jika ada ceramah yang mempromosikan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Yang selama ini terjadi adalah orang-orang yang suka memotong-motong ceramah saya, seperti halnya memotong ayat Alquran. Sebagai contoh, jangan dirikan shalat saat mabuk. Tapi dipotong, kalimatnya menjadi jangan dirikan shalat. Belum ada dalam sejarah, propaganda negatif kepada Islam dengan menggunakan media begitu gencarnya.

Dua tahun lalu (2 Maret 2015), saya menerima penghargaan tertinggi dari Pemerintah Saudi “King Faisal Award”, semacam Nobel Prize dalam dunia Islam untuk pelayanan kepada Islam. Apakah mungkin, Kerajaan Saudi Arabia yang memiliki intelijen negara memberi penghragaan tertinggi kepada seorang teroris?

Saya juga menerima penghargaan tertinggi kedua dari Penguasa Dubai dari keluarga Al Makhtoum. Apakah mungkin Penguasa Dubai yang juga memiliki intelijen negara, memberi penghargaan tertinggi kepada seorang teroris. Itu pun tidak mungkin. Itu semua itu hanya propaganda negatif saja.

Tiga tahun yang lalu, saya juga menerima penghargaan tertinggi dari Kerajaan Malaysia, apakah intelijen negara tidak tahu kalau ada seorang teroris diberi penghargaan. Itu mustahil.

Saya banyak menerima undangan dari Kepala Negara Islam di seluruh dunia, apakah mungkin mereka mau mengundang dan bertemu dengan seorang teroris?

Baru kali ada seorang penerima penghargaan sebagai orang yang tertuduh. Orang itu hanya Zakir Naik.

Apa pesan anda untuk melindungi akidah umat Islam, khususnya di Indonesia?

Pesan yang paling penting untuk saya sampaikan kepada muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah baca dan pelajari Alquran dengan baik, dan pahami dengan benar.

Meski Alquran berbahasa Arab yang tidak kita pahami, hendaklah membaca terjemahan dan tafsirnya agar dipahami maknanya. Selain Alquran, juga bacalah dan kitab-kitab hadits shahih.

Saya berpesan kepada saudara saya sesama muslim di seluruh dunia, agar tidak terpancing, terpecah untuk hal-hal yang kecil. Umat Islam harus bersatu dalam urusan yang besar. Dalam QS. Imran ayat 103, Allah mengingatkan kita umat Islam agar bersatu dan jangan berpecah belah. Inilah pesan yang sangat jelas dan penting.

[Shodiq Ramadhan/Tim Forjim]

ARTIKEL TERKAIT

Back to top button
Close
Close