TELADAN

Musibah, Akankah Mengantarkan kepada Perubahan Hakiki ?

Beragam musibah di negeri ini seakan tak ada henti. Datang silih berganti dan bertubi-tubi. Belum reda duka Lombok akibat gempa, muncul duka baru: gempa Palu, Sigi dan Donggala. Belum berakhir duka itu kini muncul tsunami di Selat Sunda menerjang wilayah Banten dan Lampung yang juga menelan banyak korban. Lebih dari 200 orang meninggal. Ratusan terluka. Ratusan lainnya hilang. Tsunami Banten seolah menjadi bencana penutup akhir tahun 2018 dari rentetan bencana yang melanda negeri ini. Khususnya dalam setahun terakhir.

Sebagai Muslim, kita harus menyikapi beragam musibah secara benar sesuai dengan tuntunan syariah. Jangan sampai musibah yang terus terjadi tersebut menjadikan kita insan durhaka dan berdosa kepada Allah Sang Khalik.

Secara umum musibah ada dua macam. Pertama, Musibah karena faktor alam. Musibah ini terjadi karena qadha Allah yang tak mungkin ditolak, seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan lain sebagainya. Kedua, Musibah sebagai akibat dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran terhadap syariat Allah. Musibah banjir misalnya, bisa jadi karena banyaknya kemaksiatan dan pelanggaran. Salah satunya akibat penggundulan hutan secara semena-mena. Contoh lainnya musibah kemiskinan. Kemiskinan yang dimaksud tentu berkaitan dengan sistem, bukan karena qadha Allah. Rezim negeri ini dengan sengaja membuat warganya miskin ditengah kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah. Jutaan ton tambang emas di Papua diserahkan begitu saja kepada asing. Berpuluh-puluh tahun lamanya tambang itu sebagian besar hasilnya diinikmati oleh PT Freeport, sementara rakyat Indonesia tak menikmati sepeserpun termasuk warga Papua. Mereka hidup di lingkungan berlimpah emas, namun banyak dari mereka hidup miskin.

Bagaimana menyikapi musibah yang terjadi ?

Di antara adab dalam menyikapi musibah karena faktor alam (sunnatullah) adalah sikap ridha dan sabar, baik bagi korban ataupun keluarga korban. Sebab, musibah yang terjadi tak bisa dihindari ataupun di tolak, berada diluar kekuasaan manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Bagi kaum mukmin, qadha ini merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana FirmanNya:

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS. Al Baqarah [2]:155).

Menyikapi musibah akibat ulah dan kemaksiatan manusia, rezim dan sistem tentu tidak cukup dengan ridha dan sabar. Ada upaya maksimal yang harus dilakukan sebelum pasrah dan sabar, yakni pencegahan. Harus dilakukan tindakan yang bersifat preventif karena landasan keimanan dan takwa kepada Allah SWT.

Tindakan preventif bisa dilakukan dengan cara amar ma’ruf nahyi munkar terhadap pelaku kemaksiatan atau kezaliman hingga pemberian sanksi tegas kepada pelaku kemaksiatan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Satu hadd (hukuman) yang ditegakkan di muka bumi adalah lebih baik untuk manusia daripada mereka diguyur hujan tiga puluh atau empat puluh pagi.” (HR Ahmad).

Hadits ini menyatakan betapa besar kebaikan dari penerapan hudud Allah SWT. Pasalnya, jika satu hadd saja diterapkan di muka bumi membawa kebaikan sedemikian besar, lalu bagaimana jika yang diterapkan adalah semua hudud Allah SWT dan syariah-Nya secara menyeluruh? Tentu keberkahan akan berlimpah-ruah memenuhi bumi. Demikianlah jaminan Allah bagi penduduk bumi manakala aturanNya ditegakkan dan dilaksanakan. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, dimana penguasa dengan sistemnya enggan menerapkan Islam beserta aturanNya. Menganggap aturan manusia lebih tinggi derajatnya ketimbang hukum Allah. Alih-alih ingin memajukan taraf kehidupan masyarakat, nyatanya semakin menjerumuskan masyarakat kedalam jurang kebodohan dan kebinasaan luar biasa akibat kapitalis-sekular yang diembannya. Menganggap hukum manusia sebagai solusi negeri adalah suatu kebodohan luar biasa. Pada akhirnya, penguasa gagal memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang terjadi. Satu kasus belumlah usai, beribu peristiwa menuai petaka. Dengan segala kegagalan itu pantaslah kiranya rezim anti Islam disematkan diwajahnya.

1 2Laman berikutnya
Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close