SURAT PEMBACA

Nasib Pilu Kaum Guru

Selasa, 30 Oktober 20181, ribuan guru honorer K2 melakukan aksi unjuk rasa di seberang Istana Negara Jakarta. Para guru yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia itu menuntut Presiden menepati janji. Seperti dikatakan Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih, pada bulan Juli Presiden Jokowi dalam acara Asosiasi Pemerintah Daerah berjanji untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi guru honorer. Salah satu yang dikeluhkan guru honorer adalah nasib para guru honorer yang sudah berpuluh tahun mengabdi, namun tak kunjung diangkat menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS). “Katanya ia akan diselesainkan, kalo tidak ada janji, kita nggak akan nagih, kalo dari awal bilang tidak bisa kan lebih enak” kata Titi seperti dalam (Kompas.com /2018/11/02.)

Nyatanya menurut Titi, kebijakan pemerintah saat ini tak sesuai dengan janji Jokowi.Sebab pemerintah hanya membuka kesempatan guru honorer yang bisa mengikuti tes CPNS adalah yang berusia di bawah 35 tahun, padahal banyak guru honorer yang sudah berusia di atas itu.

Pihak Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam Kompas.com 2018/11/02 membantah bahwa Presiden Jokowi berjanji menangkat seluruh guru honorer menjadi pegawai negeri sipil. “Oh nggak juga, sebentar dulu, janji yang mana?,” kata Moeldoko di Istana Kepresidenan Bogor, Jumat 2 November 2018.

Beginilah nasib pilu kaum guru honorer di negri kita. Hanya diberi kepastian janji yang tak pasti, dengan gaji yang pas-pas an mereka berusaha untuk mendidik para murid sambil terus pontang-panting mencari tambahan untuk mencukupi biaya kehidupan.

Gaji guru honorer yang begitu berbeda jauh dengan guru PNS begitu sangat mencolok perbandingannya. Padahal bertugas sama sebagai tenaga pengajar, hanya saja status yang membedakan mereka. Dalam detikfinance, gaji guru honorer berkisar dibawah satu juta. Inilah fakta miris di negri ini, dimana guru sebagai pendidik moral anak bangsa mendapat gaji yang begitu minim. Sedang artis yang bermain sinetron begitu besar gajinya. Padahal untuk menempuh pendidikan guru membutuhkan proses yang panjang, apalagi dengan mengemban tugas mendidik anak di zaman sekarang yang semakin berat.

Jika kita telaah kembali penyebab nasib pilu kaum guru di negeri ini tidak terlepas dari sistem kapitalis yang diterapkan di negeri ini. Sistem kapitalis adalah sistem yang memihak kepada kaum pemodal dengan tujuan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Sistem ini juga merambah masuk ke dunia pendidikan di negeri ini dengan cara kapitalisasi di dunia pendidikan, sehingga yang terjadi adalah dunia pendidikan dikomersilkan, dan posisi guru saat ini dianggap sebagai pekerja yang diberi upah. Tidak heran dalam sistem kapitalis yang tolak ukurnya adalah untung dan rugi maka upah guru honorer ditekan sedemikian rupa dalam rangka menghindari pengeluaran yang besar. Tidak ada jaminan dari negara dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup untuk guru sebagai pendidik generasi bangsa, karena sistem ini menyerahkan sepenuhnya kepada tiap individu dalam segala hal pemenuhan kebutuhan hidup.

Di dalam Islam, guru memiliki peran dan kedudukan yang penting dan mulia, karena ia sebagai perantara ilmu yang tak bertugas hanya mencerdaskan murid secara akademik saja, tapi juga membangun sisi spiritualnya untuk membentuk kepribadian Islam.

Dalam sistem pendidikan Islam guru mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara. Umar bin Khattab menggaji para guru ngaji sebesar 15 dinar setiap bulannya atau setara dengan Rp31.875.000 saat ini.

Masyaallah, hanya dalam sistem pendidikan Islam, para guru akan sejahtera dan waktunya akan lebih fokus untuk mendidik muridnya tanpa lagi memikirkan mencari tambahan biaya kehidupan. Dan dalam sistem Islam pula, para guru dilengkapi sarana dan prasarananya untuk terus memperbarui ilmunya dalam rangka menjadikan anak didik yang akan membangun peradaban yang agung. Hanya dalam sistem Islamlah yang akan memuliakan para guru. Wallahu a’lam.

Finanzi Raiza S.Pd
(Anggota Komunitas Muslimah Peduli Bangsa, Kota Malang)

Close