SAKINAH

Optimalisasi Peran Perempuan dalam Pandangan Islam

Sudah tak dapat dipungkiri peran perempuan dalam kancah kehidupan memberikan sumbangsih yang besar. Pasalnya, perempuan memiliki peran yang mendasar dalam membentuk generasi masa depan bagi sebuah bangsa. Kodrat perempuan yang melahirkan generasi penerus adalah kunci pembangunan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Terlebih bagi muslimah, dimana Islam memberikan peran ummu wa rabbatul bayt untuk para wanita tatkala memasuki dunia rumah tangga. Maka tidak mengherankan apabila kemudian Negara memberi perhatian besar bagi kontribusi perempuan pada tingkat kemajuan suatu bangsa.

Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia. Peran sebagai ummu (ibu), menjadikan perempuan memiliki hak pengasuhan anak yang dominan dalam tatanan keluarga. Mengajar dan mendidik anak-anaknya adalah tugas utama yang mesti terlaksana dengan baik. Diriwayatkan Al-Hakim, Nabi ﷺ bersabda yang artinya, “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR.Al-Hakim: 7679)

Adapun peran perempuan sebagai rabbatul bayt (pengatur rumah) adalah kewajibannya dalam mengatur urusan dan kebutuhan anggota keluarga dari dalam rumah. Seorang istri tidak diwajibkan untuk mencari nafkah sebab tugas tersebut telah menjadi tanggungan para suami. Oleh sebab itu waktu dan tenaganya akan dicurahkan dalam pengaturan rumah dan perannya sebagai ibu pendidik generasi.

Meski demikian, Islam juga memberikan ruang bagi perempuan untuk beraktivitas di luar rumah yang berkaitan dengan masalah keumatan seperti melaksanakan kewajiban dakwah, mendidik umat atau menjadi anggota majelis syuro dalam pemerintahan Islam. Adapun dibolehkannya perempuan untuk bekerja dan mengembangkan hartanya atau memimpin sendiri usahanya adalah kegiatan yang tidak menjadi fungsi utama dan fitrah perempuan sehingga tidak menjadi fokus utama dalam aktivitasnya.

Dukungan pada fungsi dan tugas utama perempuan wajib menjadi perhatian negara. Sebab, tatkala perempuan lebih mengutamakan aktivitas lain dibandingkan amanahnya yang utama, maka akan terjadi ketimpangan dan kerusakan pada sisi tatanan keluarga dan output yang dihasilkannya. Terbengkalainya aspek pengasuhan anak karena bekerja atau ketidakharmonisan suami-istri karena ketidakseimbangan pemenuhan kewajiban istri menjadi faktor yang menjauhkan keharmonisan dalam keluarga serta lahirnya generasi yang tidak utuh secara emosional maupun psikologis. Oleh sebab itu tidak tepat bila arah kebijakan pemberdayaan perempuan pemerintah kota saat ini mengarah pada kesejahteraan perempuan dari sudut pandang kesetaraan gender yang justru ingin mngoptimalkan peran perempuan di ranah publik dan seringkali meminimalisir peran perempuan di dalam rumah.

Arus opini pemberdayaan perempuan berpangkal pada pandangan bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan adalah kunci terpenuhinya hak-hak perempuan yang adil. Pandangan ini tentu tidak benar sebab asal-usul kemunculannya sendiri akibat diskriminasi perempuan pada masa kegelapan di Barat. Artinya paham ini bukan berasal dari Islam dan bukan disebabkan oleh penerapan Islam. Oleh sebab itu umat wajib mengabaikan dan menolak penerapan paham kesetaraan gender yang merusak, serta mengembalikan pengurusan kaum perempuan kepada Islam yang memahami dengan benar tugas utamanya dalam kehidupan. Tentunya hal ini perlu diawali dengan penerapan Islam secara menyeluruh dan sempurna dalam bingkai Khilafah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.[]

Ummu Ammar
Ibu Rumah Tangga, tinggal di Bandung

Tags

ARTIKEL TERKAIT

BACA JUGA

Close
Back to top button
Close
Close