SURAT PEMBACA

Pesan dari Musibah

Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana gempa yang melanda bumi Lombok terjadi beberapa waktu yang lalu, menimpa wilayah tersebut dan dukanya masih terasa sampai hari ini.

Tak lama kemudian, duka yang amat memilukan kembali datang dari wilayah Sulawesi Tengah. Peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,4 SR diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia bagian utara pada tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA, telah meluluhlantahkan wilayah tersebut, banyak rumah porak poranda, ratusan orang hilang dan ribuan meninggal dunia.

Bencana alam termasuk gempa dan tsunami adalah qadha (ketetapan) dari Allah SWT. Semua itu terjadi diluar kekuasaan manusia. Namun manusialah yang telah mengundang bencana tersebut.

Apabila kita memahami ayat-ayat Al-Qur’an terkait bencana alam yang menimpa berbagai umat terdahulu, sejak zaman Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Syu’aib, Nabi Sholeh, Nabi Musa dan sebagainya, kita akan menemukan bagaimana Allah SWT menimpakan musibah kepada umat terdahulu sebagai peringatan bagi orang-orang kafir dan ujian kepada orang-orang yang beriman.

Sebagaimana firman Allah SWT :

” Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Q.S. Al-Ankabut / 29 : 40)

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Q.S. Ar-Rum / 30 : 41)

Kita bisa meneladani perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW dan Ummar bin Khattab ketika menyikapi gempa di Madinah.

Dikisahkan bahwa suatu kali terjadi gempa bumi di Madinah. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, ” Tenanglah belum saatnya bagimu.” Lalu Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, ”Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)”.

Demikian juga apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ketika terjadi gempa di masa kekhilafahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, ” Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian lakukan (dari maksiat kepada Allah)? Andaikata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”.

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW dan Ummar bin Khattab ketika menyikapi gempa adalah mengingat Allah, bertaubat dan introspeksi atas dosa-dosa dan maksiat yang kita lakukan. Tidak memandang peristiwa bencana itu terjadi begitu saja, tanpa ada kaitannya dengan Sang Maha Pencipta alam ini.

Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah seharusnya kita memandang peristiwa alam yang terjadi saat ini dengan kacamata Islam, baik ketika terjadinya gempa maupun sesudah terjadinya gempa. Oleh karena itu dalam menghadapinya dengan hati yang penuh keimanan, tawakal, sabar dan tabah. Semua peristiwa ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran, juga sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang telah dilakukan.

Diriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu mengatakan : ”Tidaklah bala bencana turun melainkan disebabkan dosa dan tidak akan diangkat melainkan dengan taubat”.

Dosa dan kemaksiatan yang telah mengundang bencana itu. Kedurhakaan dan kesombongan manusia terhadap Allah dan pelanggaran terhadap syari’atNya telah merusak alam semesta ini. Sudah saatnya kita bertaubat, kembali kepada Syariat Allah SWT dengan menerapkan Islam kaffah.

Ya Rahman…Ya Rahim…Ampunilah dosa-dosa kami….

Wallahu a’lam

Selvi Sri Wahyuni S.Pdi.
Praktisi Pendidikan

ARTIKEL TERKAIT

Close