#Pilpres 2019LAPORAN KHUSUS

Saatnya Mengakhiri Rezim Hoaks

Hoaks adalah senjata pendukung petahana untuk membela diri. Padahal mereka sendirilah yang gemar memproduksinya.

Rocky Gerung, seorang filsof liberal lulusan sekaligus pernah mengajar di Universitas Indonesia, belakangan sangat popular. Kehadirannya menarik perhatian publik. Di Medan, Sumatera Utara, kedatangan Rocky dalam sebuah diskusi disambut bak seorang artis hendak bernyanyi. Beberapa kampus Muhammadiyah juga mengundangnya untuk mengisi kuliah umum.

Dalam situasi normal, akan sulit seorang Rocky dapat seiring berjalan dengan kelompok-kelompok Islam. Sebab jika dihadapkan vis a vis antara Islam versus Liberal, tentu Rocky berada di barisan Liberal. Tengok saja, dia adalah salah satu anggota Badan Pendiri Setara Institute. Lembaga yang selalu berseberangan dengan kelompok Islam.

Namun, karena menghadapi rezim yang ‘tidak sehat’, bertemulah akal sehat Rocky dengan akal sehat kelompok Islam. Sama-sama kritis terhadap penguasa. Sebaliknya, dengan kawan-kawannya yang bukan saja seagama, tapi juga seideologi, Rocky akhirnya berhadapan.

Salah satu gagasan Rocky yang menarik publik adalah mengenai hoaks alias berita bohong. Hoaks, kata Rocky, pelakunya dua: penguasa dan rakyat. Penguasa membuat hoaks demi keperluan berhias. Sementara hoaks dari rakyat sinyal kuat ketidakpercayaan pada penguasa.

Dari dua pelaku hoaks itu, kata Rocky, yang memiliki kemampuan paling dahsyat dalam memproduksi hoaks adalah penguasa. “Hoax terbaik adalah hoax versi penguasa. Peralatan mereka lengkap: statistik, intelijen, editor, panggung, media, Lu tambah sendiri deh,” ujar Rocky.

Pertanyaannya, apakah rezim berkuasa saat ini produsen hoaks?. Istilah hoaks, dalam praktiknya, adalah senjata andalan penguasa untuk menyerang lawan politiknya. Kalah berdebat, adu data, mereka akan menyerang dengan menggunakan kata hoaks. Namun, belakangan ternyata hoaks itu benar-benar diproduksi penguasa.

Hoaks terbaru yang diciptakan oleh pemimpin rezim ini adalah tentang propaganda Rusia. Maksud hati ingin menyerang kubu Capres 02, tetapi malah membuka tabir sendiri. Hoaks teriak hoaks.

Jokowi menyebut ‘propaganda Rusia’ saat kampanye di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada awal Februari lalu. Karena menyebut nama negara lain, kontan hal itu menuai protes dari si empunya Negara. Kedubes Rusia di Jakarta langsung merespon melalui akun Twitter mereka.

Setelah ada pernyataan dari Kedubes Rusia, Jokowi ngeles. Kata dia, istilah itu hanya terminologi dari artikel yang dia baca di Rand Corporation. Wuih, hebat sekali orang yang hobi membaca komik tiba-tiba membaca dokumen Rand Corporation, lembaga think-tank dari Amerika Serikat.

Tak cukup lewat Twitter, Dubes Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva, kemudian menggelar press briefing di kediamannya, Jl Karet Pedurenan No 1, Jakarta Selatan, Rabu (13/2/2019). Dia menegaskan Rusia tidak mengintervensi urusan dalam negeri Indonesia, termasuk soal pemilu.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Tags

ARTIKEL TERKAIT

Back to top button
Close
Close