SURAT PEMBACA

Sekulerisme Sebar Virus Gaul Bebas

Globalisasi dan kemajuan teknologi telah menyapa generasi muda Trenggalek. Televisi, HP, internet membuka wawasan dan memberikan pengaruh pemikiran tersendiri. Keluarga, tidak menyadari bibit kerusakan pada anak keturunannya. Siapa sangka, perbuatan bejat yang manusia normal tidak mungkin melakukannya, terjadi di Trenggalek.

Seorang siswi SMA melahirkan dan bayinya dikubur hidup-hidup (jatimnow.com, 17/3/2018). Seorang guru tari mencabuli muridnya sendiri yang jumlahnya lebih dari 10 orang (tribunnews.com, 19/4/2018). Dan ditemukan kondom bekas saat pengrebekan malam valentine day (momentum.com, 15/2/2018). Sepuluh pelajar SMP pesta miras dan 1 dalam kondisi hamil (koranmemo.com, 6/10/2017). Sedemikian parah kondisi moral sebagian generasi penerus bangsa dan agama ini.

Sekulerisme Itulah Biangnya

Banyak yang bilang penyebab rusaknya generasi muda saat ini disebabkan lemahnya iman, kurangnya perhatian orang tua dan pengaruh pergaulan yang rusak. Benar, memang itulah diantara faktor penyebabnya. Namun, faktor penyebab tersebut ada karena ada hal lain yang menyebabkan keberadaannya.

Lemahnya iman buah dari pemisahan agama dari kehidupan. Bagaimana iman akan kuat sedang jalan maksiat terbuka dimana-mana. Siapa yang akan menghukum orang yang tidak sholat? Siapa yang akan menghukum orang menonton video porno? Siapa yang akan menghukum orang yang pamer aurat? Siapa yang akan menghukum orang yang berzina karena suka sama suka? Siapa yang akan menghukum pemilik pabrik miras? Tidak ada. Karena sekulerisme melarang hukum agama ditegakkan sebagai hukum legal.

Lemahnya perhatian orang tua juga dipengaruhi pemikiran sekuler para orangtua. Tidak sedikit keluarga yang menjadikan materi sebagai tolak ukur kebahagiaan. Agama diposisikan sebagai penyembuh dahaga disaat duka atau sebatas ritual. Sehingga dianggap hal yang tidak salah ketika ada anggota keluarga yang sholat namun kesehariannya buka aurat. Mengijinkan anaknya pacaran asal tidak lupa sholat. Sungguh aneh, tapi inilah praktek sekulerisme itu.

Rusaknya pergaulan remaja saat ini, juga buah dari tata aturan liberal. Slogan “terserah gue, hak gue loh mau apa” menjadikan seseorang kebal nasehat, anti pada syariat dan hidup bebas. Padahal hidup bebas adalah petaka bagi seorang muslim. Satu demi satu ia akan melepaskan diri dari syariat Allah SWT. Dan jadilah remaja Islam yang malas menuntut ilmu agama. Namun rajin memanfaatkan waktu untuk senda gurau, begadang, dan bermaksiat.

Islam Mengatasi Gaul Bebas

Sekulerisme membentuk kehidupan yang kapitalis-materialistik, hedonis, dan liberal. Selama akar masalah ini ada maka problematika pergaulan itupun akan tetap ada. Sehingga tidak ada pilihan, selain meninggalkan sekulerisme dan menerapkan syariah Islam. Karena hanya syariah Islam satu-satunya aturan yang melawan kebatilan dan menyuburkan kebaikan. Antara haq dan batil itu jelas dalam Islam. Sistem sanksi Islam dapat berfungsi sebagai penebus dosa sekaligus pencegah seseorang berbuat maksiat.

Media digital sebagai produk teknologi boleh digunakan. Namun syarat memuat pemikiran Barat yang liberal. Media baik online/offline dalam Islam akan difungsikan sebagai pembawa informasi untuk mencerdaskan umat. Muatan media untuk mengokohkan aqidah, memperluas pemahaman syariah Islam dan haram memuat sesuatu yang diharamkan oleh syariah. Pergaulan lawan jenis dibatasi oleh status mahrom dan non mahrom. Serta jenis kepentingannya; umum ataukah privat serta larangan berkhalwat (berduaan laki-laki dengan perempuan bukan mahrom).

Dengan cara pengaturan demikian, fungsi negara bukan sebatas penegak hukum tapi juga penjaga aqidah dan akhlaq rakyatnya. Sehingga kehidupan liberal itu tidak ada dan terwujudnya generasi yang bersyakhsiyah Islam itu nyata adanya. Wallahua’lam.

Puji Astutik
Trenggalek Jawa Timur

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close