SYARIAH

Serial ‘Ulum Alquran: At-Ta’ridh

Serial ‘ulum Alquran kali ini akan membahas tentang at-ta’ridh. Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab fenomenalnya Al-Itqan fii Ulumil Qur’an membahas at-ta’ridh di bab 54, berdampingan dengan pembahasan al-kinayah.

Definisi

Zamakhsyari mendefinisikan at-ta’ridh (التعريض) sebagai,

والتعريض أن تذكر شيئا تدل به على شيء لم تذكره .

“Dan at-ta’ridh adalah menyebutkan sesuatu ungkapan yang menunjukkan kepada sesuatu yang tidak disebutkan.”

Asal katanya, secara lughawiyah berasal dari ‘aradh atau berpaling, ini menunjukkan bahwa ta’ridh sendiri menjelaskan makna-makna tertentu yang secara ungkapannya seakan-akan berpaling dari kalimat atau ungkapan yang seharusnya.

Ibnul Atsir berkata, bahwa ta’ridh adalah lafazh yang menunjukkan suatu makna, yang bukan dari sisi asal bahasa yang hakiki atau pun majazi hanya mampu dipahami oleh orang yang diajak berbicara dengan lafazh ini.

Sedangkan Taqiyuddin Ali As-Subki di dalam kitab Al-Ighridh mendefinisikan dengan lebih ringkas dan lugas,

التعريض فهو لفظ استعمل في معناه للتلويح بغيره

“Suatu lafazh yang digunakan sesuai dengan maknanya untuk mengisyaratkan kepada maksud yang selainnya.”

As-Sikaki juga menjelaskan dengan hal yang kurang lebih sama.

التعريض ما سيق لأجل موصوف غير مذكور .
ومنه أن يخاطب واحد ويراد غيره ، وسمي به لأنه أميل الكلام إلى جانب مشارا به إلى آخر .
يقال : نظر إليه بعرض وجهه ؛ أي : جانبه .

“At-ta’ridh adalah sesuatu yang diungkapkan untuk hal lain yang disifati yang tidak diungkap. Di antaranya jika seseorang yang diajak bicara tetapi yang dikehendaki adalah orang lain. Dinamai demikian lantaran pembicaraan dipalingkan dari suatu sisi ke sisi yang lain yany diisyaratkan. Semisal dikatakan: Tataplah ia dengan berpaling dari wajahnya. Yakni, menatap ke sisinya. As-Sikaki menjelaskan perumpaan demikian, seakan-akan ilmu at-ta’ridh ini mengalihkan tujuan dari lawan bicara.

Contoh-contoh At-Ta’ridh dalam Kitabullah adalah:

QS Al-Anbiyā : 63

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya (menghancurkan berhala-berhala yang lebih kecil), maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.”

“Perbuatan itu dinisbatkan kepada patung yang besar yang dijadikan sebagai tuhan (yang disembah kaum Ibrahim –pen). Seakan dia marah jika patung yang kecil itu juga disembah bersamanya, sebagai isyarat mereka tidak pantas dijadikan tuhan. Karena jika kaum Ibrahim tersebut mau menggunakan akalnya, mereka akan mengetahui ketidakmampuan patung yang besar sekalipun untuk melakukan perbuatan itu. Sedangkan tuhan tidak boleh lemah,” demikian penjelasan Taqiyuddin As-Subki.

QS Al-Baqarah: 253

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat…”

Maksudnya adalah Nabiﷺ sendiri, karena beliau diangkat derajatnya dengan tidak ada seorang pun yang menyamai beliau.

QS Yasin: 22-23

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, ءأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً

“Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakan aku, dan yang hanya kepadaNyalah kamu semua dikembalikan. Mengapa aku menyembah tuhan-tuhan selainNya?”

Menurut As-Suyuthi hal ini berguna untuk berlemah lembut dan menghindari perkataan kasar. Kebaikannya ialah agar memperdengarkan lawan bicara untuk menemukan kebenaran dengan pembicaraan yang tidak membuatnya tersinggung. Bertanya tentang Rabbﷻ yang Maha Pencipta agar lawan bicara turut serta hanya beribadah kepadaNya.

QS Az-Zumar: 65

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.”

Khitab (yang diajak bicara) oleh ayat ini adalah Rasulullahﷺ, tetapi maksudnya adalah seluruh umat manusia. Lantaran Rasulullahﷺ tidak mungkin syirik kepada Allahﷻ, namun ini peringatan agar seluruh manusia tidak syirik kepadaNyaﷻ.

QS Ar-Ra’du: 19

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran”

Ayat tersebut sindiran terhadap orang-orang kafir yang laksana hewan ternak lantaran tidak memakai akalnya untuk mengambil pelajaran dan memahami kebenaran. Tentu orang kafir mana pun sebenarnya punya akal dan berpotensi mengambil pelajaran demi memahami kebenaran (Islam) tetapi ayat di atas merupakan sindiran telak terhadap mereka yang tetap dalam kekafiran.

QS At-Takwir: 8-9

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ . بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh”

Sindiran untuk merendahkan dan mengejek budaya jahiliyah yang suka mengubur hidup-hidup bayi perempuan. Termasuk siapa saja mereka yang tidak percaya rezeki dari Allahﷻ hingga mengubur bayinya hidup-hidup.

Demikian pembahasan at-ta’ridh dalam ilmu Alquran, semoga bermanfaat.

Ilham Martasya’bana
Penggiat sejarah Islam dan pemegang Ijazah Sanad Hadits Arbain Nawawi

ARTIKEL TERKAIT

Close