FIQH NISA

Sesat Pikir Legalisasi Aborsi

Dalam dekade akhir ini berbagai kasus tindak kenakalan remaja, kekerasan, maupun kriminalitas di masyarakat semakin meningkat tajam. Salah satu dari sekian banyak problem tersebut yaitu kekerasan seksual yang berimbas pada kejadian Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Perilaku beresiko yang dilakukan terhadap masalah ini biasanya berujung pada tindakan aborsi.

Aborsi adalah tindakan menggugurkan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (sebelum usia 20 minggu) bukan semata untuk menyelamatkan ibu dalam keadaan darurat tetapi juga bisa karena sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu (WHO,2010). Seperti firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah [5] : 32 tentang haramnya melakukan aborsi:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ

“Barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia”.

Berkenaan dengan ini melalui PP No 61 tahun 2014 telah memancing pro dan kontra ditengah masyarakat sejak diterbitkannya oleh pemerintah tentang pasal kebolehan aborsi bagi perempuan yang hamil akibat perkosaan selain mereka yang diindikasikan memiliki kegawatdaruratan medis. Tentu hal ini tidaklah menyentuh akar persoalan melainkan memperpanjang permasalahan.

Jika pemerintah sunggguh-sungguh dalam terwujudnya kesehatan reproduksi sehat demi melindungi perempuan, maka pada kasus perkosaan semestinya pemerintah tidak menerbitkan regulasi yang mengedepankan hak untuk kebolehan aborsi. Adapun hal lain yang lebih penting yaitu penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pemerkosaan serta memberikan bantuan moril berupa recovery mental bagi korban karena sesungguhnya persoalan tersebut diatas tidak lain merupakan dampak dari sistem yang rusak di masyarakat saat ini.

Sistem ini tidak lain adalah kapitalisme melalui ide sekulerisme (Pemisahan agama dari kehidupan) yang diadopsi oleh masyarakat dan diterapkan oleh pemerintah yang telah membuka lebar munculnya berbagai macam persoalan dalam kehidupan saat ini. Sistem rusak inilah yang menjadi penyebab rendahnya akidah, cara berfikir maupun ketaqwaan masyarakat sehingga lemah terhadap pemahaman akan agama Islam sebagai solusi semua masalah kehidupan.

Secara sistematis dalam Islam negara berkewajiban menghilangkan segala bentuk rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi yang memicu ketertarikan terhadap lawan jenis. Allah SWT berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذٰلِكَ أَزْكٰى لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur [24]: 30)

Dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِۦ ۗ

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur [24]: 33)

Begitu pula segala bentuk tayangan sejenisnya yang mendekat kearah itu. Dengan penerapan Islam kaffah umat Islam akan tercegah dan bisa diselamatkan dari hal ini. Di antaranya adalah sanksi tegas bagi para pelaku zina. Allah SWT berfirman:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِى فَاجْلِدُوا كُلَّ وٰحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur [24]: 2).

Sanksi tersebut akan membuat pelaku jera dan mencegah orang lain untuk melakukan tindakan serupa sehingga kehidupan masyarakatpun akan dipenuhi dengan nilai kesopanan, keluhuran akhlak serta ketinggian kehormatan dan martabat. [Anik Astuti]

ARTIKEL TERKAIT

Close