SILATURAHIM

Super Sandi

Saat Pilkada DKI, Sandi mendapatkan rekor Muri karena mampu blusukan di 1.000 titik dalam setahun, tiga titik setiap harinya. Pada momen Pilpres 2019 ini, di cakupan yang lebih luas, Sandi mengaku bisa mengunjungi 10 titik dalam sehari. “Super Sekali”.

Sukses sebagai pengusaha muda, Sandiaga Salahudin Uno terjun ke dunia politik. Setelah berhasil menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandi kemudian dipilih Calon Presiden Prabowo Subianto untuk mendampinginya sebagai Calon Wakil Presiden.

Pilihan Prabowo dinilai tepat, Sandi yang terlihat kharismatik mampu menarik simpati masyarakat khususnya kaum milenial. Tidak hanya itu ia pun mampu bergerak cepat melakukan blusukan dan menyapa warga di berbagai wilayah Indonesia.

Sosok Sandi yang enerjik memang punya modal fisik yang mendukung. Selain sukses di dunia bisnis, ia dikenal sebagai penggemar dunia olahraga, khususnya lari. Sandi pernah keliling dunia dan berpartisipasi di 6 World Major Marathons New York (2011), Berlin (2012), Tokyo (2014), Chicago (2014), Boston (2015) dan London (2015). Ketika usianya 47 tahun, Sandi diangkat sebagai Ketua Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia.

Dengan modal fisik dan dana tentunya, ia mampu melakukan blusukan setiap harinya. “Saya bisa sampai 10 titik setiap hari mengunjungi warga,” kata Sandi saat berbincang dengan Suara Islam di Jakarta.

Sebelumnya, saat momen Pilkada DKI lalu, Pria kelahiran Pekanbaru, 28 Juni 1969 itu bahkan mendapatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) karena mampu blusukan ke 1.000 titik dalam kurun waktu satu tahun.

Ketua MURI, Jaya Suprana saat itu mengatakan, sejatinya negara Indonesia harus terus berkompetisi, agar menumbuhkan sebuah kreativitas. Sehingga, nantinya ada apresiasi yang patut diberikan.

“Ternyata dalam satu tahun, beliau (Sandi) mampu mempelopori satu hari tiga titik. Ini belum pernah terjadi di Indonesia dan di dunia,” terangnya. Jaya berharap, adanya rekor MURI ini memicu calon dari negara lain untuk lebih giat terjun ke lapangan menyerap aspirasi warga.

Muda, Kaya dan Saleh

Sebelum berkarir di dunia politik, Sandi dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses. Meski sempat jatuh bangun, namun bisnisnya bisa berkembang pesat. Dia memiliki berbagai sektor bisnis, antara lain pertambangan, infrastruktur, telekomunikasi, perkebunan, dan asuransi.

Karena sukses di dunia bisnis itulah Sandi mendapatkan sejumlah penghargaan, diantaranya adalah Indonesian Entrepreneur of the Year (tahun 2008), 150 orang terkaya versi Globe Asia (tahun 2009), orang terkaya nomor 37 di Indonesia, Majalah Forbes (2011) dan orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia.

Meski sukses, namun anak bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Razif Halik Uno dan Rachmini Rachman ini selalu rendah hati saat ditanya tentang kekayaannya.

Misalnya, jawaban Sandi saat diwawancarai Aiman dari Kompas TV belum lama ini, videonya pun beredar viral. Saat itu, Aiman menanyakan keputusan Sandi yang jorjoran menjual sahamnya di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) senilai Rp 503,38 miliar untuk berkampanye.

Saat ditanya Aiman, kenapa sampai harus menjual saham untuk kampanye, jawaban Sandi luar biasa. “Iya, sebetulnya itu bukan milik saya juga, kan harta itu milik Allah semuanya, kita niatkan ibadah. Dan buat saya yang penting untuk menyapa masyarakat, karena masyarakat ingin bertemu calon pemimpinnya dan ingin mengerti program-programnya,” ujarnya.

Lalu Aiman bertanya lagi, “gimana kalau kalah? Gak menyesal keluar duit banyak seperti itu?

Sandi menjawab, “ini kan semua rezeki milik Allah. Kita berjuang harus all out. Dan perjuangan ini sebetulnya bukan untuk kepentingan pribadi saya, bukan untuk Prabowo (tapi untuk negeri tercinta Indonesia). Saya tidak akan pernah menyesal. Ini harta cuma titipan dari Allah…” ungkapnya.

Faktor terbesar yang melatari suksesnya Sandi adalah aspek spiritualitas. Selain tawaduk, sederhana, ringan berbagi, Sandi juga melakoni ritual puasa sunnah yang diajarkan Nabi Dawud (puasa setiap dua hari sekali, sepanjang tahun). Dia pun biasa salat sunnah dhuha setiap pagi.

“Jadi begini, ibadah itu kalau sudah rutin dilakukan bukan lagi menjadi sebuah kewajiban, tapi menjadi sebuah kebutuhan. Jadi, jika aku nggak salat dhuha sekali saja, tiba-tiba ada sesuatu yang hilang. Aneh rasanya,” tutur Sandi tentang kebiasaannya itu.

Menurutnya, dampak salat dhuha begitu luar biasa. “Saya merasakan sekali hikmahnya. Sudah sekitar 7-8 tahun ini saya rutin melakukannya, rezeki itu seperti nggak dicari. Semua datang sendiri, seperti diantar rezeki itu,” ungkapnya.

Kebiasaan Sandi itulah yang membuat salah satu ulama sepuh KH Cholil Ridwan terkagum. “Dia memang bukan santri, bukan lulusan pondok pesantren, tapi sikap tawadhu dan kebiasaan ibadah yang membuat dia seperti layaknya seorang santri,” kata Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Selain itu, kunci sukses yang selalu disampaikan Sandi di berbagai kesempatan adalah konsep kerja 4 as, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.

Dicintai dan Didoakan Umat

Semakin hari, Sandi semakin populer. Blusukan Sandi dari satu wilayah ke wilayah lainnya dinanti masyarakat. Setiap daerah yang dikunjungi selalu memberikan kesan tersendiri. Salah satunya, saat Sandi melakukan perjalanan dari Kabupaten Takalar menuju Ke Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Selasa (25/12). Ia dan timnya sempat dicegat di tengah jalan oleh sekelompok massa. Rombongan pun terpaksa berhenti karena massa tumpah ruah di jalan.

“Saya membuka kaca pintu dan meminta tim pengawalan untuk tetap tenang. Ada seorang pemuda yang meminta untuk datang ke poskonya dan menggunting pita, namun karena tidak ada dalam agenda yang kami laporkan ke Bawaslu, kami tidak ingin dicatat sebagai pelanggaran. Akhirnya mereka membawa pita tersebut ke mobil. Saya ucapkan terima kasih untuk warga sekitar atas kerjasamanya dan sambutan yang sangat luar biasa. Insya Allah harapan kita semua yakni ekonomi yang lebih baik, akan segera terwujud di bawah kendali Prabowo-Sandi,” ungkap Sandi yang ia tulis pengalaman tersebut dalam akun media sosialnya.

Dalam setiap kesempatan bertemu warga, Sandi semakin dicintai. Sambutannya selalu luar biasa, mulai dari “emak-emak” yang rebutan selfi sampai warga yang menyumbangkan uangnya untuk kebutuhan kampanye Prabowo-Sandi. Menurut Sandi, kejadian yang mulai sering dialaminya ini monumental dan mengharukan, yaitu saat menerima sumbangan dana kampanye dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tukang ojek, buruh, petani, guru, santri hingga kalangan menengah atas.

Lagi-lagi menurut Sandi, itu semua terjadi karena amalan salat dhuha. “Saya melihat ini seperti keajaiban. Di saat kami sedang kesulitan, ada saja masyarakat yang kasih sumbangan ke kami. Saya merasa the power of Sholat Dhuha benar-benar nyata. Insha Allah, ikhtiar kami untuk mempejuangkan harapan rakyat Indonesia tidak akan pernah surut apapun rintangannya,” jelasnya.

Meski warga memberikan dukungan dana semampunya, namun sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh masyarakat dari berbagai daerah itu dipastikan pelaporannya jelas. “Kami ingin memastikan dalam proses penentuan, perencanaan pembiayaan kampanye dilakukan secara transparan, terbuka dan terang benderang. Budaya transparan seperti ini akan dilanjutkan apabila nantinya menang dalam pemilu. Pemilu yang bersih dan transparan akan menghasilkan pemimpin yang benar-benar bisa menjawab aspirasi masyarakat. Percepatan pembangunan khususnya di bidang ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja dan memastikan harga bahan pokok yang terjangkau hanya bisa dilakukan dengan good governance,” ungkap Sandi.

Kunjungan Sandi ke lapisan bawah di masyarakat membuatnya tahu betul apa yang harus diperbuat untuk negeri ini. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang perlu dibenahi. Dan bidang itulah yang menjadi fokus Prabowo-Sandi. “Ekonomi berbasis keumatan inilah yang akan menjadi fokus utama Prabowo-Sandi, yakni dengan memberdayakan para pengusaha lokal, khususnya pengusaha kecil dan menengah yang ada di tiap daerah di Indonesia. Ini adalah bentuk nyata Islam yang Rahmatan Lil Alamin, Islam yang membawa berkah untuk alam semesta beserta isinya,” tuturnya.

Menurutnya, Indonesia adalah negeri yang kaya raya yang seharusnya potensi tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. “Lihat betapa baiknya Allah telah memberikan negara kita dengan sumber daya alam yang melimpah. Menjadikan kita bangsa yang besar, bangsa yang kaya akan sumber daya alam. Sayangnya, impor terus merajalela, bahkan ketika panen, kita masih harus impor. Saya dan Pak Prabowo Subianto akan amanah untuk tidak melakukan impor saat panen. Kita akan berantas mafia-mafia impor. Prabowo-Sandi akan hadirkan suatu pengendalian ekonomi yang berpihak kepada rakyat. Kita akan hadirkan kesejahteraan untuk para petani. Kita mampu menjadi bangsa yang mandiri, berdikari tanpa harus didikte oleh bangsa lain,” tegas Sandi.

Selain itu, faktor yang akan memberikan kesuksesan dan keberkahan adalah doa-doa yang dipanjatkan dari seluruh pelosok negeri. Doa-doa disampaikan secara terbuka di setiap majelis, setiap tabligh oleh umat yang dipimpin para ulama. Tentu, umat pun dengan kesadaran masing-masing juga memberikan dukungan nyata serta doa-doanya, karena memang semangat adanya perubahan semakin dinantikan umat.

Menurut Sandi, kondisi Pilpres saat ini sama seperti Pilkada DKI. “Awalnya kita dipandang sebelah mata, dibilang tidak ada peluang, dibilang tidak ada media di belakang kita, tidak ada pemodal besar dan segala yang penting untuk memenangkan sebuah kontestan. Tetapi alhamdulillah Allah bukakan jalan, kita tidak hanya menang tapi menang besar,” ungkapnya saat memberikan sambutan di acara Diklat Nasional Koppasandi (Komando Ulama untuk Pemenangan Prabowo-Sandi) di Jakarta, awal Desember 2018 lalu.

Meski demikian, ia tetap optimis dengan dukungan dan doa semuanya, kemenangan di Pilpres mendatang bisa diraih. “Dan insyaallah 2019 kita akan kembali torehkan sejarah, insyaallah kita akan meraih Indonesia yang adil dan makmur baldatun toyyibatun warabbun ghafur,” jelasnya.

Tak lupa ia mengajak untuk terus bergerak dengan prinsip kerja 4 as yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas. “Kita masih ada waktu jelang pemilihan 17 April nanti, oleh karena itu kita harus bergerak cepat di seluruh Indonesia, dan jangan berhenti sampai 17 April,” pesannya. (SF)

Tags

ARTIKEL TERKAIT

Close
Close