TELADAN

Ummul Mukminin Aisyah, Wanita Berpengaruh Sepanjang Zaman

Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar radhiallahu’anhumaa merupakan istri Rasulullahﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits dan seorang ulama wanita paling berpengaruh sepanjang zaman. Aisyah adalah salah satu shahabah yang paling banyak meriwayatkan hadits serta memiliki kefaqihan mumpuni.

Istri Rasulullahﷺ yang paling muda ini termasuk dalam As-Sabiqun Al-Awwalun: sahabat yang sejak awal memeluk Islam, atau menurut definisi yang valid ialah para sahabat Rasulullahﷺ yang sempat shalat menghadap dua kiblat (sebelum Perang Badar), sebagaimana yang didefinisikan para ulama tabi’in dari Sa’id bin Musayyib, Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin hingga Qatadah. Hal itu tertuang di dalam kitab Jami’ Al-Bayan Imam Ath-Thabari dan Tafsir Imam Ibnu Katsir.

Di antara karakteristik yang pasti ada dalam diri sahabat yang tergolong As-Sabiqun Al-Awwalun dari visioner, mapan dan matang di usia muda, pencinta ilmu. Mereka juga haus akan perubahan. Semua itu tersimpan juga di dalam diri Aisyah.

Aisyah menikah dengan Rasulullahﷺ di usia enam tahun akan tetapi baru di usia sembilan tahun hidup bersama beliauﷺ sebagaimana riwayat populer. Tentu saja wanita sembilan tahun dari kalangan sahabat Rasul jauh berbeda dengan gambaran wanita saat ini, usia sembilan tahun Aisyah sudah memiliki ketinggian jiwa, sikap dan fisik yang lebih dari umumnya wanita usia sembilan tahun di masa milenial kini.

Tetapi hal yang paling menarik ialah kebiasaan Aisyah yang lebih banyak di rumah dibandingkan umumnya figur-figur muslimah milenial. Namun demikian, apa yang ditinggalkan dan dicapai oleh orang yang paling dicintai Rasulullahﷺ ini jauh melebihi wanita milenial yang gemar aktivitas di luar rumah. Aisyah merupakan sosok ulama yang menjadi tempat bertanya para sahabat Rasulullah. Aisyah menjadi ustazah yang mencetak banyak ulama tabi’in baik pria dan wanita. Ternyata banyaknya beliau di dalam rumah tidak menghalangi produktifitas keilmuwannya yang sangat luar biasa. Beliau selalu menjadi rujukan para ulama dan khalifah di masa beliau hidup maupun masa sesudahnya.

Sosok Aisyah sering kali menjadi sumber ilmu, bukan melulu masalah rumah tangga dan kekeluargaan, melainkan juga masalah-masalah fiqih, kenegaraan serta problematika umat. Maka figur Aisyah ini sudah sepatutnya dijadikan teladan bagi setiap insan di dunia.

Bandingkanlah figur Aisyah dengan banyaknya wanita milenial yang ‘ruang geraknya’ dianggap lebih banyak dan ‘lebih luas’ tetapi pada kenyataannya tidak produktif, kurang bermanfaat bagi umat dan belum bisa menjadi teladan yang dibanggakan dalam sebuah peradaban.

Ternyata tudingan negatif orientalis, kaum sekular dan liberal yang menganggap Islam mengekang kebebasan ‘gerak’ wanita sebenarnya jauh panggang dari api, jika melihat figur Aisyah. Buktinya sosok Aisyah bisa menjadi muslimah ideal dan banyak beraktivitas di rumah. Harus diakui, beliau sosok yang sangat berpengaruh bagi perkembangan keilmuwan sebuah peradaban daripada figur wanita mana pun juga.

Ilham Martasyabana
Penggiat sejarah Islam dan pemegang Ijazah Sanad Hadits Arbain Nawawi

Close