SURAT PEMBACA

Vaksin MR Haram, Dibolehkan MUI karena Darurat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengeluarkan fatwa untuk vaksin campak dan rubela (Measles Rubella/MR). Komisi Fatwa MUI menetapkan vaksin MR mengandung babi (kumparan.com, 21/08/2018).

Hasanuddin, Ketua Komisi Fatwa MUI mengatakan bahwa penggunaan vaksin MR dari serum SII hukumnya haram karena dalam proses produksi menggunakan bahan dari babi.

Meski demikian, MUI masih memperbolehkan penggunaan vaksi MR bagi umat muslim. Sebab, belum ada vaksin MR halal sampai saat ini.

Hasanuddin juga menjelaskan bahwa penggunaan vaksin MR produk SII pada saat ini dibolehkan atau mubah hukumnya karena ada kondisi keterpaksaan (darurat) dan belum ditemukan vaksin MR halal dan suci.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam menegaskan pemerintah, peneliti, dan para pelaku usaha memiliki tanggung jawab untuk menemukan vaksin MR yang halal dan suci. Tanggung jawab itu bersifat wajib.

MUI menerbitkan Fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk dari SII (Serum Institute of India) untuk Imunisasi yang diputuskan pada 20 Agustus 2018.

Sebagian orang berani menghalalkan vaksin MR di atas karena berpandangan bahwa adanya manfaat dibalik itu. Sebenarnya alasan itu sama sekali tidak benar karena, orang yang mengamati secara cermat hukum-hukum syariat, akan mengetahui secara yakin bahwa Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang tidak akan mengharamkan bagi manusia sesuatu yang baik dan dapat mendatangkan manfaat yang sesungguhnya.

Akan tetapi, Allah mengharamkan bagi manusia, semua yang keji, yang bisa mendatangkan bahaya (mudharat) terhadap mereka, baik secara pribadi maupun komunitas. Oleh karena itu, sifat Rasulullah saw yang tercantum dalam kitab-kitab suci terdahulu yang dicatat oleh Al-Qur’an adalah: “Menyuruh mereka berbuat baik, melarang mereka dari perbuatan yang mungkar/keji, menghalalkan buat mereka semua yang baik, dan mengharamkan yang keji.” (QS. al-A’raaf : 157).

Mengingat Fatwa MUI tentang kebolehan vaksin MR yang mengandung unsur babi karena alasan terpaksa/darurat jelas terbantahkan. Untuk lebih memahami pengertian darurat, kita seharusnya melakukan pembahasan yang komprehensif tentang pengertian darurat ini seperti yang dinyatakan oleh Asy-Syari’ (Allah dan Rasul-Nya).

Imam Suyuthi dalam bukunya “Al Asybah wan Nadhair” ( الاشباه والنظائر ) menegaskan bahwa “Darurat adalah suatu keadaan emergency di mana jika seseorang tidak segera melakukan sesuatu tindakan dengan cepat, maka akan membawanya ke jurang kehancuran atau kematian.”

Hukum syari’at telah jelas, mana yang halal dan yang haram. Mengutip dari surat al-A’raaf di atas, bahwa Allah menghalalkan untuk kita semua yang baik, dan mengharamkan yang keji. Dengan demikian tidak dapat merubah suatu hal yang haram hukumnya menjadi suatu hal yang dihalalkan.

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara sempurnalah, mampu menyelesaikan semua problematika umat. Wallahu a’lam.

Nur Syamsiyah
(Aktivis Mahasiswi Malang Raya)

ARTIKEL TERKAIT

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker